Gaya Busana Anak Muda Pulaumanuk: Dari Thrifting ke Personal Branding

Pernah ngeliat orang pakai baju lusuh terus kita kira dia males? Saya gitu. Dua tahun lalu, Agus, tetangga kos, jalan ke warung pake kemeja flanel sobek dan sepatu converse usang. Waktu itu saya pikir dia cuma ogah ganti baju. Ternyata saya salah bangeet. Gaya busana anak muda di Pulaumanuk sekarang bukan soal mahal atau murah, tapi soal cerita. Setiap helai punya narasi: dari mana, kenapa, dan apa artinya.
Thrifting dan Identitas Visual
Bulan lalu saya ikut Agus ke lapak thrift di pinggir pasar. Kemeja denim vintage, jaket army, tas canvas pudar — semuanya ludes dalam hitungan jam. Yang menarik, diskusi mereka soal barang itu lebih panjang dr transaksi. "Ini motif tahun 90-an, jarang ada," kata Agus sambil bolak-balik label. Di Pulaumanuk, thrifting bukan sekadar cara hemat. Ia jadi panggung untuk personal branding lewat busana.
Anak muda mulai meninggalkan seragam merek besar dan beralih ke item unik yang bisa mereka ceritakan asal-usulnya. Media sosial, terutama Instagram dan TikTok, mempercepat tren ini. Setiap postingan outfit jadi portofolio identitas visual. Saya lihat teman-teman yang biasanya pake baju polos sekarang mulai memadukan batik lengan panjang dengan celana cargo — perpaduan aneh lima tahun lalu tapi sekarang dianggap keren.
Perubahan ini menurut saya wajar. Gaya busana selalu jadi cermin zaman. Dulu anak muda Pulaumanuk ikut iklan televisi, sekarang mereka ikut algoritma. Tapi ada satu hal yang tetap: busana adalah cara paling mudah untuk bilang "ini saya" tanpa harus bicara. Ketika Agus memilih flanel sobek dibanding kemeja rapi, dia sedang menulis ulang arti kata gaya di kampung kami. Baca lebih lanjut tentang sejarah mode di Indonesia.
Saya sendiri mulai rapi-rapi lemari baju setelah ngobrol dengan Agus. Mungkin besok saya beli satu item thrift yang bisa saya ceritain ke anak cucu nanti.

Referensi: sumber resmi